Rabu, 23 September 2009

KESELAMATAN KERJA DI DALAM LABORATORIUM

Suasana kerja di dalam laboratorium berbeda dengan suasana kerja di dalam kelas. Di dalam kelas guru dan siswa hanya menghadapi alat-alat pelajaran yang umumnya tidak membahayakan orang yang sedang belajar maupun yang sedang mengajar. Sedangkan di laboratorium alat-alat dan bahan yang di gunakan mungkin dapat membahayakan penggunanya. Oleh karena itu, bekerja di dalam laboratorium perlu memperhatikan faktor keamanan kerja. Ketertiban kerja harus selalu diperhatikan. Setiap siswa yang telah menyelesaikan praktikum harus segera mengembalikan alat-alat dan bahan yang telah digunakan ke tempat semula, sehingga meja kerja selalu bersih, bahkan untuk setiap kali selesai percobaan. Alat-alat yang sudah tidak di gunakan lagi harus segera di simpan kembali untuk menghindari kerusakan atau mengacaukan jalannya praktikum. Semua siswa hendaknya sadar dan memahami tata tertib yang berlaku.


Kecelakaan-kecelakaan yang sering terjadi di dalam laboratorium:

  1. Luka disebabkan karena benda tajam, pecahan kaca, atau luka bakar.
  2. Terkena cairan yang korosif, seperti asam pekat atau basa pekat, baik yang mengenai mata maupun bagian tubuh yang lain.
  3. Tertelan zat-zat yang beracun atau korosif.
  4. Pingsan yang disebabkan karena bau gas yang memusingkan atau oleh sebab-sebab lain.
  5. Terkena kejutan arus listrik.
  6. Kebakaran, yang disebabkan karena letusan yang terjadi dari hasil percobaan atau oleh sebab yang lain.

Sedapat mungkin kecelakaan-kecelakaan tersebut di atas harus dihindari atau dikurangi sampai sekecil mungkin. Hal ini hanya dapat terlaksana bila guru dan siswa memperhatikan segala peraturan-peraturan, tata tertib kerja di laboratorium. Yang paling penting adalah guru sadar akan bahaya-bahaya yang mungkin timbul selama siswa bekerja di laboratorium. Oleh karena itu, aspek-aspek keamanan yang berhubungan dengan masalah di bawah ini perlu diperhatikan, yaitu:

  • Laboratorium dengan perabotnya.
  • Sumber panas dan kebakaran.
  • Bahan kimia.



  1. Laboratorium dengan perabotnya.

1) Perabot

Kecelakaan sering terjadi karena bentuk dan cara menempatkan bangku atau meja yang tidak memenuhi persyaratan yang sesuai dengan tuntutan situasi belajar di laboratorium, seperti ruangan yang terlalu sempit.

Untuk mengurangi terjadinya kecelakaan diperhatikan persyaratan-persyaratan laboratorium sebagai sarana belajar mengajar yang memadai. Dalam hal ini perlu diperhatikan tentang pengaturan jumlah siswa yang masuk dan pengaturan tempat duduk atau meja kerja siswa sehingga di tempat manapun ia duduk dapat dengan mudah melihat ke segala arah, terutama bila mereka sedang memperhatikan demonstrasi yang diperagakan oleh guru.

Semua laboratorium, terutama laboratorium kimia, harus mempunyai sirkulasi udara yang baik dan jendela-jendela yang mudah dibuka tutup.

Meja kerja siswa, lemari (perabot), alat-alat dan bahan hendaknya diatur penempatannya sedemikian rupa, sehingga cukup leluasa untuk lalu lintas siswa dalam ruangan laboratorium. Untuk mengurangi siswa berjalan di ruangan, sebaiknya alat-alat atau bahan-bahan praktikmum diletakkan tidak terlalu jauh dari meja kerja. Oleh karena itu, mungkin saja sesuatu zat atau bahan untuk praktikum tidak hanya terletak disatu tempat saja, tetapi mungkkin zat itu terdapat didua atau tiga tempat yang berlainan. Kalau mungkin, setiap unit meja kerja terdapat alat-alat, dan bahan-bahan untuk praktikkum.

Hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu tempat penyimpanan kotak buku atau tas yang dibawa siswa. Untuk keperluan ini perlu disediakan tempat tertentu, sebab kalau tidak, besar kemungkinan buku-buku yang dibawa atau alat-alat lainnya akan mengganggu tata tertib kerja di laboratorium.

2) Lemari asap

Untuk laburatorium kimia, lemari asap ini sangat diperlukan. Setiap laboratorium yang banyak menggunakan zat-zat kimia, perlu dilengkapi dengan lemari asap. Lemari asap ini digunakan sebagai tempat untuk melakukan percobaan yang menghasilkan asap atau gas yang berbahaya (racun) bagi pernafasan atau juga dapat dipakai untuk menyimpan zat-zat kimia yang berasap. Dalam hal-hal tertentu, lemari asap ini digunakan untuk mendemonstrasikan sesuatu percobaan yang harus berjalan lama. Oleh karena itu, letak dan bentuk lemari asap harus memungkinkan siswa dapat dengan mudah melihat bagian yang terdapat di dalam lemari asap itu.

Bagian dalam lemari asap harus terbuat dari bahan yang tahan api (fire resistant material), disamping tahan asam dan tahan karat. Selain itu, pintu geser lemari asap dapat dibuka dan ditutup dengan mudah.

Apabila di dalam lemari asap itu dilengkapi dengan sumber gas dan air, maka alat pembuka dan penutup perlengkapan itu harus terdapat di luar lemari. Dalam keadaan biasa, arus udara melalui bagian pintu yang terbuka setinggi 50 cm, ke arah dalam dan kemudian keluar melalui cerobong lemari asap. Sebaiknya kecepatan sirkulasi udara itu tidak kurang dari 0,3 sampai 0,5 meter per detik. Hal ini tentunya bergantung pada macam gas yang terjadi di dalam lemari asapitu. Semakin beracun atau merangsang hidung, gas yang terjadi itu sebaiknya semakin deraslah arus udara yang terjadi. Untuk keperluan ini banyak lemari asap yang dilengkapi dengan kipas angin pengisap pada bagian ujung dari cerobongnya.

3) Lemari terkunci dan pintu darurat.

Mungkin saja di dalam laboratorium terdapat bahan atu alat-alat yang berbahaya atau mudah rusak bila digunakan tanpa melalui tahap-tahap yang sebenarnya. Untuk keperluan ini perlu lemari-lemari yang dapat dikunci. Alat seperti mikroskop, osiloskop, zat-zat radioaktif, lampu katoda dan lain-lain yang dipandang perlu harus disimpan di dalam lemari yang terkunci.

Bila perlu, pintu darurat diadakan untuk setiap laboratorium. Letaknya harus menuju kepada bagian bangunan atau lapangan yang mudah dicapai oleh siswa apabila terjadi sesuatu kecelakaan seperti ledakan, kebakaran, timbulnya gas beracun sebagai akibat terjadinya suatu reaksi kimia yang tidak disengaja.

4) Ruang tempat penyimpanan bahan.

Jika laboratorium dilengkapi dengan ruang khusus untuk menyimpan bahan-bahan praktikum, terutama zat-zat kimia, maka ruang itu harus memiliki ventilasi yang cukup baik. Zat-zat yang mudah terbakar seperti karbon disulfida, eter, benzena, alkohol, aseton, toluena, dan lain-lain perlu disimpan diruangan khusus sebagai tempat penyimpanan bahan-bahan yang tidak segera dipakai. Di dalam laboratorium itu sendiri hanya disediakan secukupnya untuk keperluan praktikum. Hal ini untuk menghindari terjadinya kebakaran sebagai akibat pecahnya botol zat tersebut karena tertenggor siswa atau kelalaian siswa pada waktu mengambil zat itu.

Rak-rak tempat menyimpan zat kimia sebaiknya terbuat dari bahan yang tidak terpengaruh oleh uap zat-zat kimia. Bahan-bahan yang baik adalah bahan dari paralon dan alasnya dari bahan polivinil klorida, atau seluruhnya terbuat dari bahan kayu. Jika sebagian dari rak itu terbuat dari besi, maka setiap saat rak itu harus diperiksa. Jika terdapat ada bagian yang sudah berkarat dan mulai rapuh harus segera diperbaiki sebelum rak itu ambruk.

Label untuk setiap botol dan label yang menyatakan kelompok zat-zat kimia yang tersimpan hendaknya terlihat dengan terang.

Zat-zat kimia yang cair yang mudah menguap dan terbakar yang tersimpan di dalam botol dan ditempatkan di ruang laboratorium, dianjurkan tidak lebih dari 500 cc. Pada botol selalu tertulis “mudah terbakar” di samping adanya kata-kata yang menunjukkan nama zat itu, botol-botol yang berisi zat yang semacam ini harus tersimpan pada tempat yang mudah diambil dengan cara yang baik, sehingga selalu dapat diambil dengan menggenggam botol itu pada bagian badannya, dan bukan pada bagian lehernya.

5) Pipa, kabel listrik, stop kontak dan silinder

Jika di dalam laboratorium terdapat pipa-pipa gas, pipa-pipa air dan kabel-kabel listrik, sebaiknya diberi kode-kode warna, dengan demikian kita akan dengan mudah sekali mengenal pipa-pipa air dan pipa-pipa gas. Stop kontak yang mempunyai tegangan yang berbeda perlu juga diberi tanda untuk menghindarkan terjadinya kerusakan alat-alat yang kita gunakan. Silinder-silinder y7ang berisi gas juga harus diberi warna. Kode warna untuk tiap gas itu tertentu pula. Hanya sayang biasanya masing-masing negara mempunyai kode tersendiri yang juga berbeda dengan negara lain. Kode ini biasanya juga berbeda dengan kode silinder gas yang digunakan untuk keperluan rumah sakit. Oleh sebab itu untuk mengurangi kesulitan mengenal isi gas dalam silinder, disamping kode warna yang sudah ada, perlu pula ditulis pada silindernya nama gas yang ada di dalalmnya. Tanda-tanda ini untuk keselamatan kerja di laboratorium.



  1. Sumber panas dan kebakaran.

Sumber panas biasanya menggunakan alat pemanas yang memakai bahan bakar spiritus atau minyak tanah (kompor) dan laboratorium yang sudah baik perlengkapannya biasanya menggunakan pemanas bunssen dengan bahan bakar gas.

Alat pemanas macam apapun mengandung resiko kebakaran bila kita tidak menggunakannnya dengan cara yang sempurna atau karena kelalaian kita sendiri diwaktu alat pemanas itu digunakan atau setelah selesai dipakai.

1) Pemanas bunsen

Sebelum pemanas bunsen ini dinyalakan, pertama-tama kita harus memeriksa terlebih dahulu pipa karet yang menghubungkan antara pemanas bunsen dengan mulut pipa gas. Pipa karet ini harus ada dalam keadaan sempurna, jangan terdapat bagian pipa karet yang melipat atau terputar. Jika hal ini terjadi mungkin pemanas bunsen yang kita pakai akan mudah terguling karena gerak putar dari pipa karet. Setelah pemanas bunsen itu terpasang dengan sempurna, mulailah kran gas dibuka dan pemanas Bunsen dinyalakan dengan cara semestinya.

Botol-botol yang berisi zat cair yang mudah terbakar seperti benzena, spiritus, alkohol, dan lain-lain tidak boleh terdapat di sekitar alat pemanas. Jika laboratorium sudah tidak digunakan lagi, maka semua kran gas harus diperiksa sehingga kita yakin bahwa tidak ada satu kranpun yang terbuka. Pada laboratorium yang sudah lengkap biasanya diruang persiapan terdapat stop-kran untuk semua salur4an gas yang terdapat di dalam laboratorium.

2) Pemanas spiritus

Sebaiknya pemanas spiritus yang digunakan terbuat dari bahan logam. Pemanas spiritus dari gelas bahayanya mudah pecah, dan jika jatuh pada wakktu pemanas sedang menyala, mudah menimbulkan bahaya kebakaran. Untuk menghindari hal-hal yang tidak dikehendaki, jangan mengisi atau menambah bahak bakar ke dalam alat pemanas yang sedang digunakan.

3) Beberapa zat padat yang mudah terbakar dan bernahaya.

a. Logam natrium dan kalium mudah sekali bereaksi dengan udara. Dengan air, logam-logam tersebut bereaksi kuat yang dapat menimbulkan percikan api. Oleh karena itu harus tersimpan di dalam minyak tanah yang tersimpan di dalam botol tebal bermulut lebar.

b. Fosfor putih mudah sekali terbakar jika ia tersentuh udara. Oleh karena itu fosfor putih harus disimpan di bawah air. Jika kita ingin memotong atau mengerat fosfor putih harus dilakukan di dalam air pada wadah yang dasarnya rata.

c. Fosfor pentaoksida dan natrium peroksida harus selalu disimpan di dalam wadah yang tertutup rapat. Zat-zat seperti diatas sebaiknya hanya disediakan di laboratorium atau di gudang bahan-bahan dalam jumlah yang tidak terlalu banyak, cukup sekedar untuk melayani praktikum. Hal ini kita lakukan untuk menghindari terjadinya kebakaran. Jika terjadi kebakaran kecil yang disebabkan oleh zat-zat itu, hendaknya dipadamkan dengan cara menimbun bagian yang terbakar itu dengan pasir.

d. Zat oksidator kuat seperti klorat, perklorat, nitrit dan nitrat harus disimpan pada tempat-tempat yang jauh dari zat-zat yang mudah dioksidasi seperti arang atau belerang. Hal ini untuk menghindari tercampurnya zat oksidator dengan zat yang mudah dioksidasi yang disebabkan oleh tindakan-tindakan yang tidak disengaja, selain dari itu kita tidak boleh meletakkan zat oksidator kuat pada daun meja atau pada sehelai kertas.

Jika dari sesuatu percobaan ternyata menghasilkan sesuatu yang membara, janganlah sisa itu langsung dibuang ke tempat sampah, tetapi harus dipadamkan terlebih dahulu. Misalnya arang yang masih membara dipadamkan dengan menuangkan air padanya.

Itulah beberapa contoh zat-zat yang mudah terbakar. Bila kita membeli bahan-bahan kimia untuk sekolah dan kita sendiri belum yakin akan sifat-sifat zat itu, sebaiknya kita tanyakan terlebih dahulu kepada yang ahli.

Secara umum haruslah diperhatikan bahwa guru jangan memperkenankan siswa atau menyuruh siswa untuk mencampurkan bahan-bahan kimia yang dapat menimbulkan peletusan, misalnya mencampurkan klorat dengan belerang atau sulfida, klorat dengan garam amonium, klorat dengan fosfor, klorat dengan asam galat, klorat dengan logam yang halus dan lain-lain.


  1. Bahan kimia.

Banyak sekali zat-zat kimia yang harus ditangani dengan teliti dan hati-hati. Pada umumnya kecelakaan yang terjadi karena zat-zat kimia ini terutama disebabkan oleh kelalaian atau karena kita tidak sadar akan adanya bahaya-bahaya yang mungkin terjadi. Untuk mengurangi kecelakaan yang disebabkan oleh reaksi zat-zat kimia ini kita perlu mengetahui sifat-sifat zat kimia yang sering digunakan pada percobaan-percobaan yang biasa dilakukan siswa disekolah. Tentunya kita tidak hanya mengenal sifat-sifat zat itu tetapi juga harus kita ketahui tentang cara memperlakukan zat-zat kimia itu agar kita terhindar dari kecelakaan yang tidak kita harapkan.

1) Tindakan-tindakan pencegahan

  1. Asam pekat atau basa pekat harus disimpan secara tersendiri di tempat khusus. Jika kita memerlukan asam pekat untuk keperluan praktikum, zat itu disimpan dalam botol yang tidak banyak jumlahnya. Botol-botol asam pekat harus disimpan pada tempat yang tahan asam atau basa, jadi tidak mudah berkarat atau korosif.
  2. Dua macam zat kimia yang bercampur akan menimbulkan suatu reaksi yang eksplosif (mudah meledak) atau menimbulkan api harus ditempatkan terpisah, misalnya gliserin dengan kalium permanganat.
  3. Zat-zat yang beracun harus selalu tersimpan di lemari atau tempat yang terkunci.
  4. Jika kita sedang menggunakan asbestos (antiapi/tahan api) sebagai pelengkap kaki tiga, hendaknya hati-hati jangan sampai debu asbes/asbestos itu terisap ke alat pernafasan. Berdasarkan penelitian yang berhubungan dengan ini ternyata debu asbes yang terisap dapat menimbulkan penyakit kanker.
  5. Jika suatu saat perlu diadakan pemindahan zat-zat yang berbahaya jangan dilakukan oleh siswa, tetapi oleh guru atau orang yang di anggap ahli dalam bidang hal ini.
  6. Bila di sekolah terdapat zat radioaktif, haruslah disimpan ditempat yang terkunci dan kuncinya disimpan guru, sehingga hanya gurulah yang berrwenang untuk mengeluarkan zat itu untuk keperluan praktikum.
  7. Reagensia untuk keperluan praktikum, hendaknya tersedia dalam jumlah yang tidak banyak dan tersimpan di tempat khusus untuk kelompok reagensia.
  8. Pada waktu melakukan praktikum, gunakanlah pakaian yang khusus untuk itu. Asam-asam dan basa kuat dapat menyebabkan pakaian rusak bila zat itu mengenainya, begitu pula terhadap kulit. Oleh karena itu, untuk melindungi terjadinya kerusakan pakaian maupun kulit tubuh, sebaiknya praktikan selalu menggunakan pakaian laboratorium sewaktu melakukan praktikum.
  9. Siswa harus dilarang memindahkan zat kimia (pekat, berbahaya) dengan menggunakan pipet yang diisap mulut. Hal ini sangat berbahaya untuk mulut dan tidak sehat. Sewaktu siswa melakukan praktikum dilaboratorium, dilarang makan-makan, minum ataupun merokok.
  10. Zat-zat kimia yang mudah menguap pada suhu kamar harus tersimpan di tempat yang tidak langsung kena sinar matahari atau simpanlah di tempat yang selalu teduh dan dingin.
  11. Pada waktu kita membuka botol kimia yang mudah menguap atau yang sifatnya korosif, sebaiknya kita gunakan kain pengisap untuk menutupi tutup botol pada waktu kita membuka tutupnya, dengan demikian kemungkinan zat itu akan terhindar untuk mengenai tangan.
  12. Jika kita ingin mengisikan zat kimia yang cair ke dalam botol kimia, hendaknya isi botol itu hanya sampai dilehernya. Pekerjaan ini hanya dilakukan oleh guru atau tenaga yang khusus untuk membantu pekerjaan ini.
  13. Buret yang sedang dipakai, tutup krannya harus selalu dioleskan vaselin atau zat lain yang sejenis vaselin untuk menjamin tidak terjadi kebocoran.
  14. Pada waktu kita menuangkan zat cair dari botol kimia ke wadahlain, tutupnya harus selalu dipegang, agar tutup botol itu tidak terkotori oleh zat lain.
  15. Teteskan zat kimia yang jatuh di atas meja atau lantai hendaknya segera dibersihkan dengan air sebanyak-banyaknya, kemudian dibersihkan dengan pengepel.
  16. Pisau atau skalpel yang baru saja digunakan mengerat zat-zat seperti fosfor atau zat lainnya sebaiknya harus segera dicuci kemudian digunakan untuk keperluan lain, maka ada kemungkinan ia akan mengotori kemurnian zat yang digunakannya.
  17. Zat-zat yang dalam pencampuran dengan zat lain menimbulkan panas, seperti asam sulfat dengan air, pada waktu mencampurnya hendaknya wadah tempat campuran direndam dalam air dingin.

2) Zat-zat carcinogen

Telah diketahui bahwa ada zat-zat kimia yang dapat merangsang terjadinya kanker. BISCME (Bis-chlorometyl ether) merupakan suatu contoh zat kimia yang merangsang terjadinya kanker di dalam tubuh. Zat ini dapat terbentuk secara spontan dari percampuran uap formaldehida dengan uap asam klorida yang dapat terjadi pada suhu dan kelembaban di laboratorium. Oleh karena itu jika kedua zat tersebut di atas terdapat di sekolah sebaiknya harus diusahakan jangan sampai terjadi percampuran kedua uap zat tersebut, sebab jika terjadi maka kemungkinan terjadinya zat carcinogen di atas besar sekali dan jika zat ini terus-menerus terisap oleh siswa berarti siswa itu dalam keadaan terancam penyakit kanker.

3) Beberapa zat kimia yang beracun dan berbahaya

Bekerja dengan zat-zat kimia di dalam laboratorium banyak bahayanya. Disamping kemungkinan timbulnya suatu ledakan atau kebakaran, mungkin juga kita akan berhadapan dengan zat-zat yang dapat meracuni atau melukainya. Tetapi bahaya itu dapat dengan mudah kita hindari kalau kita bekerja menurut semestinya. Oleh karena itu semua zat-zat yang sifatnya racun harus selalu ada tulisan RACUN, dan jika kita baru saja memegang atau menuangkan zat itu ketempat lain, tangan harus selalu dibersihkan.

Zat-zat kimia seperti di bawah ini perlu mendapat perlakuan khusus untuk menghindarkan terjadinya kecelakaan di dalam laboratorium.

  1. Larutan alkali (basa), sangat berbahaya terhadap kulit yang disebabkan oleh terjadinya percikan zat itu.
  2. Anilin dan nitrobenzen merupakan pelarut lemak dan sangat mudah terisap oleh kulit tubuh dan ini akan merupakan racun terhadap tubuh.
  3. Benzena ialah zat yang uapnya merupakan racun bagi tubuh jika uap itu terisap. Selain itu benzena merupakan pelarut lemak, oleh karena itu dapat dengan mudah terisap oleh kulit dan masuk ke dalam tubuh.
  4. Uap brom dan yodium sangat berbahaya bagi hidung, paru-paru dan mata. Brom cair memiliki massa jenis yang tinggi, oleh karena itu botol tempat zat itu harus tersimpan dan diangkat dengan hati-hati, sebab kemungkinan botol itu pecah besar sekali.
  5. Karbon disulfida mudah terbakar uapnya dan dapat meracuni tubuh. Zat karbon disulfida ini mudah terisap oleh kulit dan juga merupakan zat racun tubuh.
  6. Karbon tetraklorida, kloroform, dioksan, etilen dan trikloretilen, uapnya merupakan racun bagi tubuh dan mudah terisap oleh kulit.
  7. Hidrogen peroksida, bila zat ini terurai, ia akan mengeluarkan oksigen. Oleh karena itu, jika kita akan membuka botol tempat zat itu hendaknya tutup dibuka dengan hati-hati, dan arahkan mulut botol itu kearah yang bertentangan dengan muka.
  8. Uap raksa yang terisap oleh alat pernafasan kita, membahayakan tubuh karena uap itu akan merupakan racun dan uap yang terisap itu akan lama tinggal di dalam paru-paru. Oleh karena itu untuk menghindarkan hal-hal yang tidak kita inginkan sebaiknya pada waktu bekerja dengan raksa, ventilasi laboratorium harus berfungsi dengan baik. Raksa yang tertinggal di lantai, di meja kerja harus segera dibersihkan. Untuk ini taburilah raksa dengan serbuk belerang. Jika kita memerlukan raksa dan zat ini tersimpan di wadah yang terbuka, sebaiknya permukaan raksa itu jangan kontak langsung dengan udara, tetapi ditutup dengan lapiasan air untuk menghalangi terjadinya penguapan raksa.
  9. Asam sulfat, larutan zat pekat ini sangat berbahaya, terutama bila mengenai tubuh. Jika kita akan membuat larutan encer dari larutan pekat, kita harus melakukannya dengan cara yang tepat, yaitu dengan cara menuangkannya ke dalam air sedikit demi sedikit sambil diaduk, dan jangan melakukannya dengan cara yang sebaliknya sebab bisa menimbulkan panas yang mendadak dan percikan yang terjadi sangat berbahaya terutama terhadap mata.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar